Boomnews.id

Portal Berita Terkini

Berbagai Teori Alasan Manusia Jadi Makhluk Berdarah Panas

Foto: iStock

Jakarta – Sebagian hewan berdarah dingin seperti kadal dan buaya membutuhkan hangatnya sinar matahari untuk beraktivitas. Sementara, hewan-hewan berdarah panas lain atau bahkan manusia mampu menghasilkan panasnya sendiri. Apakah kalian tahu, mengapa manusia tergolong berdarah panas?

Hewan-hewan berdarah dingin dikenal sebagai ektotermik, sedangkan yang berdarah panas termasuk manusia; mamalia lainnya; dan burung dikenal sebagai endotermik. Artinya, manusia mampu menjaga suhu dalam tubuhnya lebih hangat dari sekitar.

Burung memiliki suhu tubuh sekitar 40 derajat celsius. Sementara, manusia bersuhu tubuh rata-rata 37 derajat celsius.

Kemampuan untuk menjaga suhu tubuh tetap konstan disebut dengan homeotermik. Supaya dapat menjaga suhu tubuh tetap konstan, makhluk endotermik harus makan lebih teratur daripada makhluk ektotermik. Hal ini supaya kita dapat mendukung tubuh menghasilkan panas.

Namun, ada pengecualian juga mengenai makhluk endotermik-ektotermik. Hewan pengerat naked mole rat menjadi satu-satunya mamalia ektotermik. Suhu tubuhnya cukup stabil oleh lorong-lorong bawah tanah tempatnya tinggal.

Alasan Manusia Berdarah Panas

Ada beberapa teori dan kontroversi mengenai endotermik. Berdasarkan catatan fosil, diperkirakan bahwa nenek moyang burung mulai berevolusi menjadi endotermik sekitar 140 juta tahun lalu. Kemudian, nenek moyang mamalia modern memiliki darah panas diperkirakan sejak zaman Trias, lebih dari 200 juta tahun lalu.

Salah satu gagasan awal mengapa sistem endotermik dibutuhkan adalah agar hewan-hewan berdarah panas dapat menjalani gaya hidup yang aktif dan memiliki energi yang cukup untuk mengejar mangsa yang bergerak cepat. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Bennet dan Ruben pada 1979. Menurut keduanya, faktor utama evolusi endotermik adalah peningkatan kemampuan aerobik yang membuat hewan-hewan tersebut mempertahankan aktivitas tingkat tinggi.

Sementara, gagasan alternatif mengemukakan bahwa endotermik pada dasarnya berevolusi pada herbivora. Mereka membutuhkan nitrogen pada kadar yang tinggi, yang memungkinkan hanya jika mereka mengonsumsi tanaman dalam jumlah besar.

Oleh sebab itu, herbivora mengonsumsi karbon pada kadar yang amat tinggi, yang kemudian dibakar secara endotermik. Gagasan ini dikemukakan oleh Klaassen dan Nolet.

“Sebagian besar teori berpendapat bahwa makhluk berdarah panas berevolusi menjadi karnivora yang lebih kecil dan hal ini bisa saja benar. Jika iya, maka evolusi endotermik kemungkinan mendukung gaya hidup herbivora. Hal ini jadi lebih mungkin terjadi saat darah panas berevolusi,” ujar Marcel Klaassen dari Netherlands Institute of Ecology kepada New Scientist, dikutip dari IFL Science.

Bukti mengapa nenek moyang manusia berevolusi menjadi endotermik, masih kurang. Bisa jadi ada kombinasi dari perubahan lingkungan pada masa tersebut atau ada peningkatan materi tanaman terkait dengan penggunaan nitrogen.

Bisa jadi nenek moyang kita butuh kemampuan terkait oksigen yang lebih besar, agar bisa mendukung mereka dalam berburu. Beberapa pendapat juga mengatakan bahwa endotermik merupakan metode pertahanan terhadap infeksi jamur. Alasannya bisa saja kombinasi dari faktor-faktor tersebut.

(nah/nwy)