Boomnews.id

Situs Berita Terkini

Ilmuwan Kembangkan AI untuk Deteksi Tanda Kehidupan di Luar Angkasa

Ilustrasi AI Foto: Getty Images/iStockphoto/Sitthiphong

Jakarta – Kalian Pernah gak sih memikirkan sebuah teknologi yang berfungsi untuk ‘mengendus’ kehidupan di planet lain? Ternyata, kini sudah ditemukan lho teknologi yang melakukan hal tersebut ada batas tertentu.

Sebuah metode baru, dikembangkan berdasarkan kecerdasan buatan (AI) untuk membedakan pola molekuler yang mengindikasikan sinyal biologis. Algoritma AI ini bahkan bisa mendeteksi sampe yang berusia ratusan juta tahun.

Sebelumnya, teknologi ini dikembangkan dari sensor pesawat ruang angkasa yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi molekul dengan indikasi kehidupan alien. Namun, molekul organik yang menunjukkan proses biologis terdegradasi seiring berjalannya waktu, sehingga keberadaannya sulit dikenali.

Baca Juga : Sudah Dirilis, Xiaomi 13T: Spesifikasi dan Harga

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada (25/9/2023), para peneliti yakin mekanisme AI ini dapat mengindikasi sinyal biologis dengan tingkat akurasi mencapai 90%.

Rencananya, sistem AI ini akan ditanamkan pada sensor yang lebih cerdas pada robot penjelajah luar angkasa. Sensor robot juga dipasang pada pendarat dan penjelajah Bulan, Mars, serta pesawat ruang angkasa yang mengelilingi dunia yang berpotensi dapat dihuni seperti Enceladus dan Europa.

Deteksi Kehidupan dari Perbandingan Molekul Abiotik

Di dunia manapun, setiap kehidupan dapat memproduksi beberapa senyawa tertentu dalam jumlah yang lebih tinggi sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hal ini berguna untuk membedakan mereka dari sistem abiotik. Perbedaan inilah yang dapat dilihat dan diukur dengan AI.

“Kami memulai dengan gagasan bahwa kimia kehidupan berbeda secara mendasar dari kimia di dunia mati; bahwa ada ‘aturan kimia kehidupan’ yang mempengaruhi keanekaragaman dan distribusi biomolekul,” kata Robert Hazen, salah satu penulis studi dari Carnegie Institution for Science di Washington D.C.

Baca Juga : Bahas Alutsista dengan Wakasad, Pangkostrad: Kita Akan Lebih Banyak Pakai Drone dan Satelit

“Jika kita dapat menyimpulkan aturan-aturan tersebut, kita dapat menggunakannya untuk memandu upaya kita dalam memodelkan asal usul kehidupan atau untuk mendeteksi tanda-tanda halus kehidupan di dunia lain,” imbuh Hazen.

Dilansir dari laman Space.com, metode baru ini bergantung pada premis bahwa proses kimia berperan dalam pembentukan fungsi biomolekul.

Secara mendasar proses kimia dalam molekul abiotik, yaitu biomolekul (seperti asam amino), menyimpan informasi tentang proses kimia yang membentuknya. Melalui proses tersebut, deteksi sampel akan memungkinkan digunakan pada kehidupan di luar bumi.

Uji Validitas Data Biotik dan Abiotik

Tim peneliti pertama kali mengembangkan algoritma AI dengan memberikan 134 sampel yang terdiri dari 59 sampel biotik dan 75 sampel abiotik. Selanjutnya, mereka membagi secara acak menjadi set pelatihan dan set pengujian untuk memvalidasi algoritma.

Dengan cara tersebut, metode AI berhasil mengidentifikasi sampel biotik dari makhluk hidup seperti cangkang, gigi, tulang, beras, rambut manusia. Serta dari kehidupan purba yang terawetkan dalam fragmen fosil tertentu yang terbuat dari batu bara, minyak, dan ambar.

Teknologi tersebut juga dapat mengidentifikasi sampel abiotik termasuk bahan kimia seperti asam amino yang dibuat di laboratorium serta meteorit kaya karbon.

Dalam waktu dekat, AI tersebut akan digunakan untuk mempelajari batuan berusia 3,5 miliar tahun di wilayah Pilbara di Australia Barat, tempat diperkirakan terdapat fosil tertua di dunia yang pertama kali ditemukan pada tahun 1993.

Baca Juga : WhatsApp Memperkenalkan Fitur Baru Peringatan Buat Kreator Jika Ada Pembatasan

Diketahui, batuan tersebut merupakan sisa-sisa fosil mikroba yang mirip dengan cyanobacteria yaitu organisme pertama yang menghasilkan oksigen di Bumi.

Jika hal ini benar, maka keberadaan bakteri pada awal sejarah awal bumi mengindikasikan bahwa planet ini telah mengalami perkembangan kehidupan jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Namun, temuan tersebut masih kontroversial, karena penelitian berulang kali menunjukkan bahwa bukti tersebut mungkin juga disebabkan oleh proses geologis murni yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan purba.

(pal/pal)