Boomnews.id

Situs Berita Terkini

Kemendag Beberkan Penyebab Harga Gula Pasir Naik

Ilustrasi gula. Foto: thinkstock

Jakarta – Kementerian Perdagangan menjelaskan ada sejumlah faktor penyebab harga gula pasir terus melambung tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut, kementerian yang di bawah pimpinan Zulkifli Hasan tersebut pun akan menjalin kolaborasi dengan berbagai instansi lain.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Isy Karim, mengatakan bahwa kondisi harga Gula Pasir saat ini terus naik sebesar 4,03% menjadi Rp15.500/kg. Hal ini berdasarkan pantauan Kemendag melalui Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) di 495 Kabupaten/Kota.

“Kondisi Harga Gula Pasir naik sebesar 4,03% menjadi Rp15.500/kg,” ucapnya kepada detikcom, Selasa (17/10/2023).

Menurutnya, meningkatnya kenaikan harga gula domestik saat ini disebabkan sejumlah hal. Pertama, kenaikan dari harga lelang pasca penetapan Harga Acuan Pembelian (HAP). Terjadi kenaikan sebesar Rp 1.000/kg (8,06%) dari Rp11.500/kg menjadi Rp12.500/kg di mana efek berantai kenaikan harga baru mulai dirasakan saat ini atau over stock harga baru.

Baca Juga : Siap-siap, Bulan Depan Pemerintah Berencana Sebar 500 Ribu Rice Cooker

Faktor kedua, berakhirnya musim giling. Rata-rata produksi gula pasir pada Oktober sampai Desember hanya mencapai 13% dari total produksi tahunan. Ditambang dengan kekeringan lahan yang disebabkan fenomena El Nino, Isy mengatakan banyak lahan tebu yang saat ini mengalami pembungaan.

“Sehingga menurunkan rendemen gula tebu yang berakibat pada turunnya kuantitas gula yang dihasilkan,” ungkapnya.

Penyebab ketiga, adalah meningkatnya Harga Gula Mentah di pasar internasional. Jumlahnya mencapai US$ 27 cent per pon, Isy mengatakan harga tersebut adalah yang tertinggi dalam 12 tahun terakhir. “Situasi ini turut menopang tingginya harga gula domestik,” bebernya.

Baca Juga : Investor Pantau Ketat Perang di Gaza, Harga Minyak Dunia Stabil di Angka US$ 90/Barel

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Isy kemudian menjelaskan bahwa Kemendag aktif berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait seperti Badan Pangan Nasional, Badan Urusan Logistik, dan pemerintah daerah.

Kolaborasi dilakukan untuk memberikan informasi deteksi dini kepada masyarakat, rekomendasi kebijakan, dan melakukan akselerasi barang kebutuhan untuk memastikan ketersediaan pasokan dengan harga yang terjangkau.

(das/das)

Editor : Jasver Javier