Boomnews.id

Situs Berita Terkini

Hindari 5 Kebiasaan Berikut ini Jika Sering Stres di Pagi Hari

Ilustrasi stres. (Healza Kurnia Hendiastutjik)

Jakarta – Kita mungkin membiasakan rutinitas pagi yang sama selama bertahun-tahun. Sebagian kebiasaan mungkin sudah cukup baik, namun sebagian lainnya mungkin jadi alasan mengapa hari-hari kita kurang produktif.

Kebiasaan pagi hari dapat memengaruhi suasana hati seharian penuh sekaligus dapat mempengaruhi kesehatan mental kita secara keseluruhan. Langkah pertama untuk membangun rutinitas pagi hari yang baik untuk kesehatan mental adalah menghilangkan kebiasaan-kebiasaan pemicu stres.

Melansir Insider, berikut sejumlah kebiasaan yang memicu stres di pagi hari dan sebaiknya dihindari :

1. Tidak mempersiapkan diri sehari sebelumnya

Cara terbaik untuk mencegah stres di pagi hari adalah merencanakan segala sesuatunya di malam hari, terutama jika kita bukanlah seorang morning person. Dalam hal pekerjaan, misalnya, cobalah mempersiapkan hal-hal apa saja yang akan dikerjakan di keesokan harinya sejak malam sebelum kita tidur. Bahkan, kita juga bisa menyusun agenda kegiatan esok hari sejak sehari sebelumnya.

Membangun kebiasaan untuk membuat perencanaan juga bisa mencegah diri kita kelelahan dalam melakukan pengambilan keputusan. Rebecca Soni, atlet renang peraih medali emas di tiga olimpiade mengatakan dirinya terbiasa menyusun perencanaan sebelum tidur. “Menjadi enterpreneur yang bekerja dari rumah membuat saya merasa perlu melakukan serangkaian pengambilan keputusan kecil setiap harinya.” “Dengan membuat perencanaan, saya terbantu untuk menghindari kelelahan dalam mengambil keputusan di pagi hari,” katanya.

2. Kurang tidur

Banyak ahli menyarankan agar kita punya rutinitas pagi yang baik untuk kesehatan mental. Misalnya, melakukan meditasi, olahraga, hingga sarapan sehat. Namun, semua itu sulit dicapai jika kita tidak tidur cukup di malam harinya. Profesor psikolohi dan ilmu saraf dari University of St. Thomas, Dr Roxanne Prichard mengatakan, kurang tidur mendorong sistem saraf simpatik menjadi “overdrive”.

Pada kondisi tersebut jantung akan berdetak lebih cepat dan kita akan menafsirkan banyak hal membuat lebih stres dan berlebihan daripada yang sebenarnya. Para ahli saraf sebelumny mengatakan kepada Insider bahwa rata-rata orang dewasa butuh sekitar 7-9 jam tidur setiap malamnya. Para pakar juga mengingatkan bahwa memasang alarm dapat membuat seseorang bangun dalam keadan panik.

“Kita akan cenderung bangun dengan “melompat” dan hasilnya, memicu stres yang lebih besar,” kata direktur medis dari Canyon Ranch Lenox, Dr Cynthia Geyer.

3. Langsung mengecek HP saat bangun pagi

Sudah jadi hal yang biasa jika banyak di antara kita yang langsung mengambil ponsel saat bangun pagi untuk mengecek email, berita terkini, hingga media sosial. Meski merupakan hal biasa, namun Prichard menegaskan kebiasaan itu tidak menyiapkan kita untuk sukses. Geyer mengaitkan hubungan pengalaman penuh stres dan konsumsi berita. Seseorang yang memulai pagi harinya dengan berita-berita yang memicu stres bisa saja merasa perlu melihat lebih banyak berita setelahnya.

Hal itu dapat menyebabkan gejala stres pascatrauma. Selain itu, psikolog klinis dari Wellspace SF, Gina Delucca mengatakan pada HuffPost, kebiasaan melihat ponsel saat bangun pagi akan membuat seseorang langsung berada pada “mode kerja” sehingga lebih mudah cemas tentang hari yang akan mereka hadapi, bahkan sebelum bangun dari tempat tidur. Sama halnya dengan orang-orang yang membuka media sosial atau membaca berita ketika membuka mata.

Semua kebiasaan itu dapat memicu kecemasan, apalagi jika kita membaca sesuatu yang negatif atau mengerikan. Jika menyadari kita kerap merasa stres gara-gara kebiasaan mengakses ponsel saat bangun tidur, batasilah waktu konsumsi berita. Misalnya, hanya 30 menit di enam jam awal dan 30 menit di sore atau malam hari.

4. Langsung minum kopi saat bangun tidur

Minum kopi setelah bangun tidur dapat memicu lonjakan kortisol atau hormon yang dilepaskan ketika kita mengalami stres. “Kortisol memiliki ritme sirkadian, dengan kadar tertinggi terjadi secara alami 30-40 menit setelah bangun tidur,” kata Geyer. Kondisi itu bakal memicu lebih banyak gejala terkait stres, seperti peningkatan detak jantung, perasaan stres, dan kecemasan. Kafein secara independen meningkatkan kortisol dan adrenalin.

Meskipun, efek ini mungkin tak terlalu signifikan pada orang-orang yang sudah secara rutin mengonsumsi kafein. Untuk itu, Geyer menyarankan minum kopi setidaknya tiga jam setelah bangun pagi.

5. Melewatkan sarapan sehat

Asisten profesor kedokteran dari Wayne State University, Dr Tom Rifai, ketika melewatkan sarapan ketika dalam kondisi lapar dapat meningkatkan risiko stres. Ia menambahkan, kita juga sebaiknya menghindari sarapan tidak sehat, seperti sarapan dengan makanan tinggi kalori, karbohidrat rafinasi, atau makanan diproses.

Asisten dokter, Kate Martino mengatakan, jika kita makan makanan yang diproses tinggi, tubuh akan kekurangan vitamin dan mineral yang diperlukan untuk meningkatkan energi dan mengurangi kejadian kabut otak. Tanpa vitamin dan mineral, kita bakal sulit untuk fokus dan energi akan lebih cepat terkuras. Apalagi jika makanan yang diproses tersebut adalah makanan kemasan.

“Label pada kemasan makanan tersebut membuatnya seolah mengandung banyak nutrisi, tapi jika dibandingkan dengan makanan alami tentu sangat kurang,” kata dia.

Editor : Jasver Javier